Makan Malam 2026 yang Diprediksi AI di Tahun 2016: Ada yang Nyambung, Tapi Banyak yang Lucu Banget.
Dulu, tahun 2016, sekelompok peneliti iseng ngasih AI jutaan data tren makanan, artikel gastronomi, dan postingan media sosial. Lalu nanya, “Menurut kamu, makanan di tahun 2026 akan seperti apa?”
Hasilnya, mereka cetak jadi satu buku menu fiksi. Dan minggu lalu, saya ngadain pesta makan malam prediksi AI itu. Masakin semua hidangan yang “diprediksi” bakal populer tahun ini. Dan… wah. Lucu, sih. Tapi juga bikin mikir.
Kata kunci utama: prediksi kuliner AI. Tapi versi kapsul waktu.
Menu Malam Itu: Sebuah Potret Masa Lalu yang Ingin Terlihat Futuristik
Begitu buka “menu” PDF jadul itu, keliatan banget pola pikir 2016-nya. Era saat sriracha lagi naik daun, kale salad dianggap superfood, dan semua orang takut sama gluten. AI belajar dari data itu, lalu ekstrapolasi ke level yang… kadang absurd.
Hidangan 1: Protein Bar dari Jangkrik & Lumut Laut (Chirp-nori Bar)
Prediksi AI 2016: “Sumber protein berkelanjutan akan mendominasi. Serangga dan algae adalah masa depan.”
Kenyataan 2026: Jangkrik bubuk emang ada. Tapi buat kebanyakan orang, ini masih cuma bahan “stunt” di video YouTube, bukan makanan sehari-hari. Yang bener-bener jadi adalah algae dalam bentuk spirulina dan chlorella. Tapi bukan dalam bentuk protein bar yang eneg. Tapi sebagai superfood booster di smoothie atau masker wajah. Meleset, tapi nggak sepenuhnya.
Hidangan 2: Burger 3D-Printed dengan ‘Rasa Hujan’ (Pluvia Burger)
Prediksi AI 2016: “Makanan cetak 3D akan personalisasi nutrisi. Rasa akan berevolusi mencakup ‘pengalaman atmosfer’.”
Kenyataan 2026: 3D food printer masih jadi barang lab dan chef molecular gastronomy. Tapi soal “rasa pengalaman”? Ini yang seru. Prediksi rasa unik 2026 oleh AI ini agak nyambung. Sekarang banyak chef eksperimen dengan rasa “petrichor” (bau tanah usai hujan) atau “oud” dalam dessert. Tapi bentuknya bukan burger. Lebih ke fine dining. AI bener soal arah, salah soal medium.
Hidangan 3: ‘Blue Velvet’ Smoothie Bowl dengan Electrolyte Sparkles
Prediksi AI 2016: “Warna biru akan menjadi warna makanan baru yang populer, melambangkan teknologi dan kemurnian.”
Kenyataan 2026:** BINGO. Ini yang paling akurat. Lihat aja trend butterfly pea flower, blue spirulina, dan blue matcha di semua kafe Instagramable. “Rasa biru” itu emang ada, dalam artian aesthetic dan rasa earthy-nya bunga telang. AI 2016 nebak ini berdasarkan analisis warna di branding tech company (yang emang dominan biru). Dan dia betul. Studi kasus kecil: dari 10 makanan “viral” di TikTok tahun lalu, 4 di antaranya berwarna biru alami.
Data fiksi: Dari 12 hidangan dalam menu prediksi, hanya 3 yang secara konsep benar-benar “ada” di 2026. 5 lainnya “nyasar”, dan 4 sisanya adalah kombinasi aneh yang mustahil (kayak “sashimi durian bercahaya”).
Kesenjangan Imajinasi: AI 2016 Nggak Bisa Bayangkan ‘Nostalgia’
Ini poin paling dalem. AI 2016 dilatih data yang melihat ke depan. Dia nggak ngerti bahwa tren terbesar 2026 justru adalah nostalgia. Dia nggak prediksi bakalan ada ledakan kopi susu jadul, martabak bangka, atau gourmet rendang. Dia nggak bisa bayangin kalau masa depan itu bukan cuma tentang teknologi baru, tapi tentang membawa masa lalu dengan cara yang lebih baik.
AI itu pinter dalam ekstrapolasi linear. Dia lihat grafik naiknya quinoa, lalu prediksi tahun 2026 kita makan biji-bijian dari Mars. Tapi dia nggak ngerti siklus budaya, sentimen, atau keinginan manusia buat merasa aman dengan rasa yang familiar.
Kesalahan AI (Dan Kita) dalam Memprediksi Masa Depan:
- Berasumsi bahwa perubahan itu selalu revolusioner. Nyatanya, evolusi rasa itu pelan. Kita nggak ganti nasi dengan pil nutrisi dalam 10 tahun.
- Mengabaikan faktor “kelezatan” dasar. Prediksi burger jangkrik gagal total karena AI nggak punya data sensorik “enak vs tidak enak”. Dia cuma tau data “banyak dibicarakan”.
- Terlalu fokus pada “solusi masalah”. AI 2016 pikir kita akan makan serangga karena krisis pangan. Ternyata, plant-based meat dari kacang dan jamur yang lebih diterima. Karena rasanya lebih mendekati daging, dan nggak bikin geli.
Jadi, Apa yang Bisa Dipelajari dari Makan Malam Aneh Ini?
Besok, kalo lo baca artikel “AI Prediksi Makanan Tahun 2035!”, ambil dengan grain of salt (atau grain of tepung jangkrik). Itu cermin dari kita sekarang. Dari ketakutan dan harapan kita.
AI itu ahli melihat pola di data lalu. Tapi masa depan seringkali datang dari hal-hal yang nggak ada datanya dulu—seperti pandemi yang bikin kita melek kesehatan usus, atau gerakan lokal yang bikin kita kembali ke rempah nenek moyang.
Menu prediksi AI 2016 itu, akhirnya, bukan ramalan. Tapi kapsul waktu imajinasi kuliner. Dia mengingatkan kita bahwa masa depan yang kita bayangkan selalu dibatasi oleh kotak data masa kini.
Mungkin, hidangan terenak di pesta makan malam itu adalah obrolannya. Ngeliatin temen-temen yang mencicipi “Pluvia Burger” sambil ketawa-ketawa, dan sadar bahwa yang bikin masa depan makanan menarik bukan cuma teknologinya. Tapi kita-nya. Yang bisa bikin hal baru, tapi juga rindu pada rasa lama. AI mungkin bisa prediksi warna biru. Tapi dia nggak akan pernah bisa prediksi kenapa secangkir kopi tubruk panas tetap terasa lebih “masa depan” bagi kita, daripada smoothie bubuk jangkrik apapun.