Kembalinya Rasa “Tertinggal”: Nostalgia Rasa Makanan Kaleng & Instan 90-an yang Kini Jadi Menu Chic Restoran Mahal

Kita semua punya memori itu. Rasa yang dulu dianggap “kelas dua”. Kornet kalengan di atas nasi panas. Mi instan rebus telur ceplok. Sirup jeruk sintetis yang manisnya nempel di tenggorokan. Itu rasa masa kecil. Rasa yang sering dikaitkan dengan keadaan pas-pasan, atau ibu yang lagi nggak ada waktu masak. Tapi coba lihat sekarang. Pergi ke restoran mahal, kita malah disuguhi “Deconstructed Kornet Wellington” atau “Consommé dengan Essence of Chicken Royale”. Harganya? Bisa setara seminggu belanja mi instan. Kok bisa? Ini bukan sekadar nostalgia buta. Ini adalah bisnis cerdas yang bermain dengan psikologi rasa kenangan kita. Mereka memanipulasi rasa “tertinggal” itu menjadi komoditas mewah.

1. Manipulasi “Umami Buatan”: Ketika MSG Dikemas Ulang Jadi Seni Kuliner

Dulu, kita sembunyi-sembunyi makan mi instan. Takut dibilang “kurang gizi”. Sekarang, chef di restoran berani sebutkan monosodium glutamate sebagai bahan istimewa di menu mereka—tapi dengan nama lain, seperti “kristal umami” atau “essence of savor”. Ambil contoh Restoran “Masa” di Jakarta. Mereka menyajikan hidangan “Nostalgia Mie Gelas”. Tapi isinya? Kaldu ayam kampung 12 jam, daging lobster, dan jamur shimeji. Lalu, di atasnya, mereka taburkan “dehydrated seasoning flake” yang rasanya… persis bumbu bawang putih dalam kemasan mi instan.

Di situlah disonansi nostalgia terjadi. Otak kita kaget. “Loh, ini rasa masa kecilku! Tapi kok teksturnya mewah banget? Kok harganya Rp 250 ribu?” Chef sengaja memicu percakapan itu. Mereka memakai rasa sintetis yang kita kenal sebagai “anchor”, lalu membungkusnya dengan kemewahan. Strategi bisnisnya jenius. Mereka jual emosi, bukan cuma makanan. Kita rela bayar mahal untuk kegembiraan sekaligus kebingungan itu.

2. Bahan Kaleng Jadi “Hero Ingredient”: Sardencis dan Sop Krim Jagung yang Direvolusi

Siapa sangka sardencis dan jagung kaleng—ikon makan siang hemat jaman dulu—bisa jadi bintang menu tasting menu? Di “Kafe Sans” Surabaya, ada hidangan “Sarden Putih dengan Caviar dan Potato Foam”. Rasanya? Ikan sarden kalengan yang familiar itu, tapi versinya lebih lembut, lebih bersih, disajikan dengan kentang lembek yang diubah jadi foam mewah dan sedikit caviar. Rasa “ikan kaleng” yang dulu dianggap amis dan murahan, tiba-tiba jadi kompleks dan elegan.

Apa yang terjadi? Chef memanfaatkan psikologi rasa kenangan kita. Otak kita langsung terlempar ke masa lalu: makan sarden kaleng dengan nasi hangat di meja makan sederhana. Tapi konteksnya sekarang benar-benar berbeda. Ini restoran dengan pencahayaan temaram dan pelayan berseragam. Disonansi itu yang membuat pengalaman makan jadi tak terlupakan—dan layak diunggah. Bukan lagi soal “enak atau tidak”, tapi “wah, mereka berani banget mengangkat ini!”. Dan kita, sebagai generasi 90-an, merasa diakui. Rasa “tertinggal” kita tiba-tiba jadi chic.

3. Sirup Sintetis & Minuman “Sachet” dalam Gelas Kristal

Ini mungkin yang paling jitu. Minuman rasa jeruk, leci, atau melon yang dulu kita beli di kantin sekolah dalam kemasan plastik, sekarang dihidangkan sebagai “Artisanal Soda” dengan harga Rp 75 ribu per gelas. Caranya? Mereka menggunakan ekstrak buah asli dan teknik clarification yang rumit, tapi dengan flavor profile yang sengaja dibuat meniru rasa sintetis sirup sachet tahun 90-an. Ada usaha keras di baliknya: menciptakan rasa “buatan” dengan bahan alami. Sebuah paradoks yang disengaja.

Survey fiktif Culinary Nostalgia Index 2025 menunjukkan, 68% milenial menyatakan mereka lebih mungkin memilih restoran yang menawarkan reinterpretasi makanan masa kecil mereka, meski harganya 3-5x lebih mahal. Alasannya? “Pengalaman yang unik dan personal.” Ini data yang dipelajari betul oleh pelaku bisnis kuliner. Makanan kaleng 90an bukan lagi barang murahan. Itu adalah kode budaya bersama yang punya nilai jual tinggi.

Lalu, Bagaimana Kita Menyikapinya? Tips Jadi Konsumen Cerdas

Jangan asal terbuai nostalgia. Ada seni menikmati, tapi juga ada batasan.

  1. Kenali “Markup Nostalgia”: Sadari bahwa yang kamu bayar adalah kemasan, suasana, dan teknik masak tinggi. Rasa dasarnya memang akrab, tapi harga premiumnya adalah untuk storytelling dan presentation. Tanya ke diri sendiri: “Apakah pengalaman emosional ini worth it buat gue?”
  2. Coba Rekreasi di Rumah: Ingin merasakan disonansi nostalgia tanpa keluar uang banyak? Coba eksperimen sendiri. Bikin carbonara pakai kornet kalengan premium. Atau buat agar-agar pakai susu UHT dan rasa sintetis, sajikan dalam gelas cantik. Seringkali, setengah kesenangannya ada di proses “mempermainkan” kenangan itu sendiri.
  3. Common Mistakes yang Harus Dihindari:
    • Menganggapnya “Autentik”: Ini bukan usaha menghidupkan kembali masa lalu. Ini adalah interpretasi. Jangan bandingkan apple-to-apple dengan mi instan rebus ibumu dulu.
    • Ikut Tren Buta: Nggak semua kenangan makanan layak dihargai mahal. Pilih yang memang punya ikatan emosional kuat dengan kamu, bukan karena sekadar lagi viral.
    • Meremehkan Kreativitas Chef: Di balik sepiring “Sarden Caviar” itu ada riset dan teknik. Hargai itu, meski bahannya terdengar sederhana.

Kembalinya rasa “tertinggal” ini adalah fenomena yang kompleks. Ini bukti bahwa nostalgia rasa makanan adalah kekuatan pasar yang luar biasa. Bagi generasi 90-an, ini adalah cara untuk mengklaim kembali masa kecil—dalam versi yang lebih dewasa, lebih mewah, dan tentu saja, lebih mahal. Tapi di balik gelas kristal berisi sirup jeruk sintetis itu, ada pertanyaan: apakah kita sedang merayakan kenangan, atau justru membeli lisensi untuk melupakannya dengan gaya? Mungkin, dengan menggigit “Kornet Wellington” itu, kita sedang mengunyah masa lalu sekaligus masa kini, dalam satu suapan yang mahal dan… sedikit aneh.