Gue lagi scroll TikTok jam 2 pagi. Nggak bisa tidur. Biasanya gue nonton video masak atau vlog random. Tapi malam itu, algo kasih sesuatu yang aneh.
Sebuah video. Seseorang sedang makan. Mie goreng. Dia ambil suapan, kunyah, telan. Ambil lagi, kunyah, telan. Wajahnya datar. Nggak ada ekspresi. Nggak ada musik latar. Nggak ada suara selain suara kunyah dan suara sendok nyentuh mangkok.
Durasi 10 menit. Gue tonton sampe habis.
Gue nggak tau kenapa. Hipnotis? Penasaran? Atau justru… tenang?
Ternyata, ini namanya mukbang sunyi.
Versi ekstrem dari mukbang biasa. Kalau mukbang biasa penuh dengan obrolan, teriakan, reaksi berlebihan, mukbang sunyi justru kebalikannya: diam total. Cuma suara makan. Kadang tanpa wajah. Kadang cuma tangan dan makanan.
Di 2026, tren ini lagi naik daun. Jutaan penonton. Ribuan kreator. Dan yang bikin heran: orang rela nonton orang makan tanpa ngomong berjam-jam.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dari Mukbang Biasa ke Mukbang Sunyi
Mukbang (방송) asalnya dari Korea Selatan. Gabungan kata “muk-ja” (makan) dan “bang-song” (siaran). Awalnya konten sederhana: orang makan banyak sambil ngobrol dengan penonton.
Tahun 2010-an, mukbang mendunia. Di Indonesia pun menjamur. Kontennya biasanya: makan banyak, makan pedas, makan ekstrem, sambil teriak-teriak, sambil bercanda, sambil interaksi sama chat.
Tapi di 2026, muncul varian baru: mukbang sunyi.
Ciri-cirinya:
- Kreator nggak ngomong sama sekali
- Hanya suara makan (kunyah, telan, suara sendok)
- Kadang tanpa wajah (hanya tangan dan makanan)
- Durasi bisa panjang (30 menit – 2 jam)
- Nggak ada musik latar
- Nggak ada efek suara
- Cuma… diam.
Awalnya gue pikir ini cuma iseng. Tapi setelah liat jumlah view—jutaan—gue mulai mikir: “Ada apa dengan orang-orang?”
Data: Siapa yang Nonton Mukbang Sunyi?
Analisis dari platform streaming (fiksi tapi realistis) nunjukkin:
- Penonton mukbang sunyi naik 450% dalam 2 tahun terakhir
- Mayoritas penonton (73%) adalah usia 22-35 tahun
- 68% menonton pada malam hari (jam 10 malam – 3 pagi)
- 52% mengaku menonton untuk “menenangkan diri”
- 47% menonton sambil melakukan aktivitas lain (belajar, kerja, tiduran)
- 39% mengaku lebih memilih mukbang sunyi daripada mukbang biasa karena “nggak berisik”
Ini menarik: orang mencari ketenangan di tengah dunia yang super ramai. Dan mereka menemukannya di video orang makan tanpa suara.
Studi Kasus: Tiga Penonton Mukbang Sunyi
Gue ngobrol sama beberapa penonton setia mukbang sunyi.
Dita (27), pekerja kantoran, Jakarta
“Setiap pulang kerja, kepala gue rasanya mau pecah. Macet, deadline, chat nggak berhenti. Pas sampe rumah, gue butuh ‘reset’. Mukbang sunyi jadi ritual gue. Gue duduk, makan cemilan, sambil nonton orang makan diam-diam. Aneh ya? Tapi itu satu-satunya waktu di mana gue nggak mikir apa-apa.”
Raka (31), freelancer, Bandung
“Gue sering begadang kerja. Kadang butuh temen tapi nggak pengen ngobrol. Mukbang sunyi jadi temen diam gue. Suara kunyah itu… entah kenapa menenangkan. Kayak suara hujan. Nggak ganggu, tapi bikin ngerasa nggak sendiri.”
Sasa (24), mahasiswa S2, Jogja
“Awalnya gue nggak ngerti. Kok ada yang nonton orang makan doang? Tapi pas lagi stres ngerjain tesis, gue coba. Dan anehnya, itu bikin gue lebih fokus. Suara kunyah jadi white noise yang nggak ganggu konsentrasi. Sekarang gue langganan beberapa kreator mukbang sunyi.”
Tiga orang, tiga alasan beda. Tapi semuanya nyari satu hal: ketenangan di tengah hiruk-pikuk.
Perspektif Psikologis: Antara ASMR dan Terapi
Gue ngobrol sama psikolog, Bu Laras (49), yang juga penasaran sama fenomena ini.
“Ini sebenernya varian dari ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response). ASMR adalah sensasi ‘gelitik’ di kepala yang muncul karena rangsangan suara tertentu. Suara bisikan, suara ketukan, suara makan—itu semua bisa picu ASMR.”
Apa bedanya dengan ASMR biasa?
“ASMR biasa sering dirancang untuk memicu sensasi itu. Videonya sengaja dibuat dengan mic sensitif, dengan suara-suara tertentu. Mukbang sunyi lebih… natural. Nggak ada yang dipaksakan. Cuma suara makan apa adanya.”
Kenapa ini populer sekarang?
“Karena dunia terlalu berisik. Notifikasi, media sosial, berita, musik di mana-mana. Otak kita nggak pernah benar-benar istirahat. Mukbang sunyi ngasih ‘ruang kosong’ yang langka. Suara sederhana yang nggak menuntut respons apapun. Ini semacam meditasi untuk generasi digital.”
Apa ini sehat?
“Bisa sehat kalau jadi pelengkap, bukan pengganti interaksi sosial. Tapi kalau seseorang lebih milih nonton orang makan daripada makan bareng temen, itu mungkin tanda ada masalah.”
Perspektif Sosiologis: Protes Terhadap Kebisingan
Dari sisi sosiologi, fenomena ini menarik banget.
“Kita hidup di era di mana segala sesuatu harus berisik,” kata seorang sosiolog di podcast. “Media sosial, iklan, konten kreator—semua berlomba menarik perhatian dengan cara yang semakin keras, semakin heboh, semakin berlebihan.”
Mukbang sunyi sebagai perlawanan:
“Ini bentuk protes halus. Dengan memilih konten yang diam, penonton bilang: ‘Aku muak dengan keramaian. Aku butuh hening.’ Ini semacam gerakan bawah tanah melawan budaya berisik.”
Ironisnya:
“Protes ini dilakukan di platform yang paling berisik: media sosial. Mereka melawan kebisingan dengan cara tetap berada di dalamnya. Ini paradox, tapi itulah generasi digital.”
Apa artinya?
“Mungkin ini tanda bahwa kita butuh ruang hening di dunia maya. Bukan hening total, tapi hening yang disengaja. Yang dipilih. Yang dikontrol. Mukbang sunyi menyediakan itu.”
Studi Kasus: Kreator Mukbang Sunyi
Gue juga ngobrol sama seorang kreator mukbang sunyi. Sebut aja namanya Tari (29), punya 500 ribu followers di TikTok.
“Awalnya iseng. Gue lagi makan, rekam, upload. Nggak ada niat apa-apa. Tiba-tiba viral. Orang pada komen ‘tenang banget’, ‘bikin ngantuk’, ‘bacground noise favorit’. Sejak itu gue rutin bikin konten mukbang sunyi.”
Apa yang dia rasakan?
“Aneh sih, orang nonton gue makan. Tapi gue ngerasa kayak… ngasih sesuatu. Mungkin ketenangan. Karena pas gue rekam, gue juga harus tenang. Nggak bisa grusa-grusu. Jadi ini semacam meditasi buat gue juga.”
Apakah dia ngomong sama sekali di video?
“Nggak. Kadang pengen sih, tapi itu bakal ngerusak konsep. Penonton gue期待in kesunyian. Kalau gue ngomong, mereka kabur.”
Berapa penghasilan?
“Lumayan. Iklan, endorsement produk makanan (yang nggak mengharuskan gue ngomong), dan kadang donasi. Orang rela bayar buat liat gue makan diam-diam.”
Data: Suara Apa yang Paling Dicari?
Analisis konten mukbang sunyi nunjukkin bahwa suara tertentu lebih populer:
- Suara kunyah renyah (kerupuk, keripik, apel): 78% viewer suka
- Suara sendok nyentuh mangkok: 65%
- Suara minum: 62%
- Suara potong makanan (gunting, pisau): 58%
- Suara makanan direbus/ digoreng: 45%
- Suara makanan lengket (keju, cokelat leleh): 42%
Setiap suara punya penggemar sendiri. Bahkan ada yang request: “Tolong makan apel aja 10 menit.”
Ini menunjukkan bahwa mukbang sunyi bukan sekadar “makan diam”, tapi soundscape yang dirancang buat kebutuhan pendengaran tertentu.
Yang Bikin Aneh Sekaligus Gemas
Di satu sisi, mukbang sunyi itu aneh. Masa iya, orang rela nonton kita makan tanpa ngomong? Bukannya lebih baik makan sendiri atau ngobrol sama orang?
Tapi di sisi lain, ada yang gemas. Melihat seseorang menikmati makanannya dengan tenang, tanpa drama, tanpa pencitraan, rasanya… otentik. Kayak lagi liat teman makan di seberang meja, tanpa tekanan harus ngobrol.
Mungkin itu yang dicari: otentisitas. Di era di mana semua konten penuh dengan overacting, clickbait, dan manipulasi, mukbang sunyi terasa jujur. Apa adanya. Cuma orang dan makanannya.
Tips: Menikmati Mukbang Sunyi (Kalau Penasaran)
Buat yang penasaran dan mau coba nonton, ini tipsnya:
1. Siapin waktu tenang.
Nonton mukbang sunyi paling enak pas lagi sendiri, nggak ada gangguan. Malam hari sebelum tidur cocok banget.
2. Gunakan earphone yang bagus.
Suara kunyah bakal terasa lebih detail. Pilih earphone dengan kualitas suara yang oke.
3. Jangan ekspektasi hiburan.
Ini bukan konten yang bikin lo ngakak atau terhibur. Ini konten buat nenangin. Kalau lo butuh hiburan, cari yang lain.
4. Coba sambil makan.
Nonton mukbang sunyi sambil makan sendiri. Rasanya kayak makan bareng temen yang nggak banyak omong. Cocok buat yang kesepian.
5. Eksplor berbagai kreator.
Setiap kreator punya gaya beda. Ada yang fokus ke suara renyah, ada yang ke suara lembut. Cari yang cocok sama selera lo.
Common Mistakes: Jangan Lakuin Ini
1. Nonton sambil rame-rame.
Mukbang sunyi butuh konsentrasi. Kalau lo nonton sambil ngobrol sama temen, lo bakal kehilangan sensasinya.
2. Ekspektasi variasi.
Ya itu-itu aja. Orang makan. Jangan berharap ada plot twist atau kejutan.
3. Nge-judge penonton lain.
“Kok lo nonton orang makan doang?” Jangan. Setiap orang punya cara sendiri buat rileks.
4. Lupa konteks.
Ini konten rileksasi, bukan konten inspiratif. Jangan nyari motivasi hidup di sini.
5. Kebanyakan nonton.
Segala sesuatu yang berlebihan nggak baik. Kalau lo nonton mukbang sunyi 5 jam sehari, mungkin ada masalah lain.
Masa Depan: Akan ke Mana Tren Ini?
Beberapa kemungkinan:
Mukbang sunyi akan terus ada sebagai niche.
Nggak akan sepopuler konten mainstream, tapi punya penggemar setia. Kayak ASMR.
Berkembang jadi berbagai varian.
Mungkin nanti ada “mukbang sunyi alam” (makan di tengah hutan), “mukbang sunyi mewah” (makan makanan mahal diam-diam), atau “mukbang sunyi kolaborasi” (dua orang makan diam bareng).
Teknologi akan makin canggih.
Suara 3D, binaural recording, bikin pengalaman makin imersif.
Akan ada kritik etis.
Beberapa pihak mungkin protes: “Ini nggak sehat, orang jadi males sosialisasi.” Tapi kayaknya nggak akan menghentikan tren.
Yang Gue Rasakan
Gue akui, setelah riset buat artikel ini, gue jadi penasaran. Gue coba nonton beberapa video mukbang sunyi.
Awalnya aneh. Tapi setelah 10 menit… gue ngantuk. Enak. Tenang. Kayak abis pijet.
Gue nggak tau apa ini efek placebo atau emang bermanfaat. Tapi yang jelas, di tengah dunia yang super berisik, punya 10 menit untuk cuma dengerin suara orang makan terasa… mewah.
Mungkin ini yang dicari orang: ketenangan yang murah dan mudah diakses.
Nggak perlu pergi ke gunung, nggak perlu meditasi mahal, nggak perlu aplikasi berbayar. Cuma buka YouTube atau TikTok, cari “mukbang sunyi”, dan dengerin.
Aneh? Iya. Tapi efektif? Mungkin.
Gue sendiri? Mungkin akan nonton lagi nanti malam. Sambil makan mi instan. Biar rame.
Kesimpulan: Antara Terapi dan Tren Aneh
Mukbang sunyi di 2026 adalah fenomena yang nggak bisa dijelaskan dengan logika sederhana.
Dia aneh: orang nonton orang makan tanpa ngomong.
Tapi dia juga masuk akal: di dunia yang terlalu berisik, orang butuh jeda. Butuh suara yang nggak menuntut apapun. Butuh teman yang nggak perlu diajak ngobrol.
Mukbang sunyi menyediakan itu. Dengan cara yang paling sederhana: satu orang, satu makanan, dan keheningan.
Apakah ini terapi? Bisa jadi. Apakah ini tren aneh? Juga bisa. Tapi yang pasti, ini adalah cermin dari generasi yang kelelahan secara mental dan butuh cara baru buat bertahan.
Jadi, kalau lo nemu temen lo nonton video orang makan diam-diam, jangan langsung judge. Mungkin dia cuma butuh ketenangan. Mungkin dia cuma capek sama dunia yang terlalu berisik.
Dan siapa tau, suatu hari lo juga bakal nyoba. Dan ketagihan.
Gue sendiri? Udah nyoba. Dan jujur… lumayan bikin tenang.
Tapi gue nggak akan ngaku ke siapa-siapa. Biar jadi rahasia kecil.